Saya
terkesima dan takjub dengan karya-karya dari Tante Dee. Hehehe :D *Nggak marah
kok slama ini teman saya nyebut saya dengan sebutan, Dee atau Didi ^^*. Pertama
kali tahu Dee, dari lagu yang dia bawakan yaitu ‘Malaikat Juga Tahu’. Saya suka
lagu itu dan cocok buat saya. Lalu saya semakin kenal dari film baru yang tagi
ng-trend ‘Perahu Kertas’, yang kata-kata dan makna dalam film itu daleem
banget! Apalagi soundtrack dari filmnya yang berjudul Perahu Kertas juga, yang
di ciptakan sama Dee. Setelah itu baru tahu kalo ternyata Dee adalah penulis
terkenal di Indonesia dan ternyata memiliki novel Supernova yang berjudul ‘Kesatria,
Putri, & Bintang Jatuh’, ‘Akar’, ‘Petir’ dan juga ‘Partikel’. Naah..
Sekarang saya mau post syair-syair di ke-empat novel itu. And.. This is it!
\(^0^)/
Akar :
Engkaulah gulita yang memupuskan segala batasan dan alasan
Engkaulah penunjuk jalan menuju palung kekosongan dalam
samudera terkelam
Engkaulah sayap tanpa tepi yang membentang menuju tempat
tak bernama, tetapi terasa ada
Ajarkan aku
Melebur dalam gelap tanpa harus lenyap
Merengkuh rasa takut tanpa perlu surut
Bangun dari ilusi, tetapi tak memilih pergi
Tunggu aku
Yang hanya selangkah dari bibir jurangmu
Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh
Engkaulah getar pertama yang meruntuhkan gerbang tak
berujungku mengenal hidup.
Engkaulah tetes embun pertama yang menyesatkan dahagaku
dalam cinta tak bermuara
Engkaulah matahari
Firdausku yang menyinari kata pertama
di cakrawala aksara
Kau hadir dengan ketiadaan. Sederhana dalam
ketidakmengertian
Gerakmu tiada pasti. Namun, aku terus di sini.
Mencintaimu.
Entah kenapa.
Petir
Engkaulah kilatan cahaya yang menyapulenyapkan segala jejak
dan bayang
Engkaulah bentangan sinar yang menjembatani jurang
antara duka mencinta dan bahagia terdera
Engkaulah terang yang kudekap dalam gelap saat bumi
bersiap diri untuk selamanya lelap
Andai kau sadar arti pelitamu
Andai kau lihat hitamnya sepi di balik punggungmu
Tak akan kau sayatkan luka demi menggarisi jarakmu
dengan aku
Karena kita Satu
Andai kau tahu
Partikel
Engkaulah keheningan yang hadir sebelum segala suara
Engkaulah lengang tempatku berpulang
Bunyimu adalah senyapmu
Tarianmu adalah gemingmu
Pada bisumu, bermuara segala jawaban
Dalam hadirmu, keabadian sayup mengecup
Saput batinku meluruh
Tatapmu sekilas dan sungguh
Bersama engkau, aku hanya kepala tanpa rencana
Telanjang tanpa kata-kata
Cuma kini
Tinggal sunyi
Dan, waktu perlahan mati