Seorang teman menuliskan ini dengan isi hatinya. Dengan gundahnya, dan
pandangannya. Ia kecewa bahwa tulisannya tak bisa ia muat. Tak bisa membuatnya
berkembang. Ini dia salah satu tulisannya :
Antara
berdiri di neraka dan mencoba berlari menemukan surga. Tiada yang bisa ku
hindari. Ketika aku memilih di sini, yang penuh kekerasan, keegoisan kemelaratan
dan keanehan. Sesuatu yang salah bisa menjadi indikator penentu. Hanya
sandiwara yang berhak menang. Mestinya peran harus dimainkan diuar kewarasan.
Sungguh menakjubkan namun menyakitkan. Seakan tak ingin melangkah,tapi waktu
memutar masa yang ada.menuntun kea rah yang lebih aneh lagi. Tak habis
pikir,masikah akan terus seperti ini?
Tak seorangpun ku biarkan
mengenali aku. Karena aku datang bukan untuk menetap. Walau akhirnya aku
meninggal disini. Tapi, aku takkan pernah mengakui itu. Ini adalah hari ke-5760
aku di dunia. Sedikitpun belum ku temukan sepercik air jernih untuk menjadi
cermin hidupku. Yang ada hanya ketidakpahamanku berkoak-koak membangunkan
seluruh makhluk bernyawa. Sialnya, tak dihiraukan.
Setiap harinya aku selalu
menghitung kapan sampainya aku di hari ke-9999 di dunia. Aku berteriak
memecahkan riak gelombang di samudra antartika, berharap bisa kembali ke
duniaku semula. Malangnya, aku tak dihiraukan lagi. Terlantar disini membuat
aku harus menghabiskan realita di atas keasingan yang parah bertalian ini.
Melihat orang-orang yang tak ku
kenali disana dan disini. Dimana, mereka semua memakai topeng yang sangat
menakutkan. Ada yang lain memang tentang diriku, tapi dunia ini lebih lain
lagi. Aku menemukan yang namanya pendidikan, moral, politik, ekonomi, agama,
budaya dll yang dulunya juga sudah aku temukan. Sebenarnya bukan hal baru, hanya
saja sangat berbeda. Bahkan aku sampai nangis darah memahami perbedaan
ini,sulit dijelaskan tapi ini nyata. Ketika sebagian dari makhluk hidup sulit bernapas. Padahal mereka
kaya akan udara. Tapi,bagaimana aku bisa membantu? Sedang napasku juga sesak.
Atau tentang teman-temanku yang bangga mengenakan seragam sekolah. Tertawa
menelusuri hari tanpa tujuan yang pasti. Tentang rumahku yang tak pernah
menyentuh kedamaian. Tentang para pemimpinku yang tak pernah puas. Tentang
mereka yang selalu merasa lapar.Tentang saudara-saudariku yang acuh kepada
Tuhan. Aku heran berdiri sendiri di ujung aspal yang jarang dilewati ini.
Terkadang aku muak berhadapan
dengan manusia ular,manusia drakula. Yang tak jarang kutemukan di
sekolah,dilingkunganku dan dimanapun aku menginjakkan kakiku. Katanya saudaraku
sendiripun tega menghisap apa yang selama ini menjadi pertahananku untuk
bernapas. Tiada yang bisa di percaya aku lebih memilih hidup sendiri. Tapi,
akankah bisa?
Pernah sekali
aku mendarat di daerah yang katanya beragama kental. Aku memang tak sesempurna
mereka. Ibadahnya yang lengakap disertai sunnah-sunnahNya. Tapi moralku jauh
lebih baik. Aku yakin itu. Ketika kudapati seseorang lelaki paruh baya
membentang dan mendorong seorang nenek yang tengah berhadapan dengannya.
Mungkinkah itu ibunya? Hanya karena si nenek lupa melepas sendalnya hendak
masuk rumah,beginilah akhirnya. Pantaskah seorang beragama memiliki hati
sekeras ini.
Seketika juga aku terenyuh
mendengar keluhan para tetangga-tetangga ku yang harus menyisakan sepiring nasi
untuk makan siang. Tak seorangpun yang peduli. Hanya aku dengan segala usaha
yang mungkin tak menyelesaikan perkara ini. Ntah harus bagaimana lagi
memperdayakan aku yang begitu lemah ini. Tiada respon dengan semua kenyataan
yang terjadi. Mungkinkah nanti ada sedikit perubahan setelah ini?
Tak habis fikir ternyata
kehidupan separah ini. Bukankah Tuhan telah memberi nikmat yang cukup?
Seandainya saja dulu aku tidak melawan dengan semua yang ada, aku tak kan
sampai ke kehidupan seperti ini. Ingin rasanya aku mengubahnya. Namun, aku akui
itu tak semudah membalik telapak tangan. Sedang aku hanya seorang musafir
disini. Atau akulah sang hero yang akan mengubah ini? Ntah lah. Yang aku
inginkan hanya kembali ke tempat dimana aku melihat keluargaku yang sebenarnya.
Bukan ditempat yang penuh sandiwara seperti ini. Sungguh, tidak memberi hidup.
Pagi-pagi sekali aku sengaja
berangkat sekolah sendiri. Ibuku sedari tadi memaksa aku membawa bekal makan
siang tak sampai hati melihat kepergianku tanpa uang saku. Perempuan yang ku
panggil mama ini menyelipkan uang kertas dua ribu rupiah dikantong tasku yang
sudah tua dan rapuh ini. Aku yang sekarang duduk di bangku SMA, apakah masih
pantas memegang duit sebesar itu di tahun seperti ini? Kau mungkin bisa
menjawabnya. Untungnya, sekolahku tak jauh dari rumah. Hanya sekitar 2 km dan
aku menempuhnya dengan berjalan kaki.
Sampai akhirnya aku
menyelesaikan sekolahku di tingkat SMA. Aku dan keluargaku masih sama seperti
dulu. Melarat, kelaparan dan penuh pertengkaran. Begitu juga dengan aparat
penegak hukum yang berkeliaran dengan seribu macam jurus terjitu untuk menjebak
kaum tak berduit yang benar dari tuduhan. Yang berpura-pura melindungi nyawa
lemah tapi nyatanya menikam dan memenangkan tawa kepuasan atas kelakuan bejat
mereka. Peraturan-peraturan juga masih sama seperti dulu. Dibuat hanya sebagai
simbol bahwa negara ini berdaulat, makmur, demokrasi atau apalah itu yang
sangat memuakkan.
Aku sendiri jijik melihat mereka
berpose dengan style masing-masing. Mencengkrama sebagai makhluk sosial yang
penuh perhatian dan sangat berwibawa. Bangga terhadap jabatan-jabatan haram
yang indahnya hanya sekejap itu. Aku dan saudara-saudariku memang tak melihat
transparan hitam-putihnya layar ini. Tapi Tuhan? Siapa yang bisa berpaling dari
kehendak Tuhan?
Saat aku pertama kali ikut
memilih wakil-wakil rakyat dimana-mana selalu ada suara sumbang yang tak
kuketahui kemana larinya. Ketika kutanyai kenapa? Semua hanya membisu dan sibuk
dengan urusan masing-masing. Mungkinkah ini salah satu karena kemelaratan yang
merajalela?

