Aku pernah mendengar, sebanyak apa pun masalah kita di dunia ini, jika ada orang yang selalu berada di sampingmu, ada teman-temanmu, masalah apa pun bisa kau jalani. Tapi bagaimana justru jika teman itu sendiri yang menjadi bagian dari masalahmu? Siapa yang akan berada di sampingmu? Pada akhirnya kita hanya bisa memendam. Hanya bisa mengubur dalam-dalam masalah yang kita hadapi. Pada akhirnya, hanya diri kita sendiri yang mengerti. Kadang kita hanya butuh seseorang itu menyetujui dan mendukung keputusan kita. Berada di pihak kita. Kita tidak butuh kata-kata yang sebenarnya sudah kita ketahui. Kita hanya butuh orang itu ada di sisi kita, mengatakan apa yang sebenarnya apa dalam hati kita. Bukan masukan atau saran. Tapi kita ingin memastikan orang itu ada di pihak kita. Kita tidak bisa memaksa seseorang bisa paham dengan kondisi kita. Terkadang juga hanya ingin menangis dan melupakan. Karna dengan melupakan segalanya kembali utuh.

Bahkan dengan satu pelukan, banyak hal yang tersampaikan.

Aku masih merasa misterius bagaimana Tuhan menciptakan perasaan yang sangat amat harus dijaga ini. Hal sepele mengenai perasaan ini harus kita bawa ke dunia mana pun kita dilempar. Di dunia asing itu, perasaan ini semakin rentan terluka. Akan banyak badai di luar sana. Akan ada banyak retakan nantinya.

Terkadang aku sendiri merasa iba pada hati, aku tak bisa menjaganya untuk terus utuh.

Namun, entah kenapa waktu terus membolak-balikkan perasaan dan ingatan. Kenapa aku melakukannya? Kenapa aku harus terluka waktu itu? Pada akhirnya, perasaan akan pergi terbang secepat angin. Kita lupa bagaimana perasaan kita pada masa lampau meski saat itu kita merasa benar-benar hancur, dan tak ada luka lagi yang mampu menambah rasa sakit itu. Namun waktu mulai mengobati. Yang aku kira dulu adalah masalah, ternyata bukan masalah. 

Pada akhirnya aku sadar, akulah masalah itu sendiri.

Aku tak bisa mengatasi masalah dengan diriku sendiri. Akulah bagian terbesar dari masalah itu sendiri. Aku tak bisa mengendalikan diri. Benar kata orang-orang, musuh terbesar adalah diri kita sendiri. Ketika aku menyesal, aku merasa bahwa diriku yang dulu adalah musuh diriku yang sekarang. Aku ingin membunuh egonya kala itu. Hati dan otakku yang masih sama ini bekerja dengan cara yang berbeda dengan waktu yang berbeda. 

Perbedaan ada karna waktu dan ruang yang berbeda. Seiring berjalannya dimensi itu, perbedaan muncul. Terpengaruhi situasi di ruang dan waktu itu. Bahkan masih dalam tubuh yang sama, aku terkadang bergejolak dengan sendirinya. Ada dua sisi yang mengubahku seiring waktu.

Aku berbeda bahkan dalam tubuh yang sama. Bagaimana dengan orang lain? 


Barangkali kabarmu tersapu angin sore
Kala itu aku sedang tak berada di beranda rumah
Aku sibuk merapikan sisa-sisa bajumu yang kau tinggalkan
Juga sibuk meyakinkan diri bahwa aku sedang tidak sendiri
Ada engkau yang selalu kucari-cari
Mungkin engkau ada di belahan bumi lain
Aku yakin
Engkau akan segera sampai
Sambil membawa kembali rindu yang selalu ku kirimkan
Jika kau tak kembali
Pastikan padaku
Engkau ada namun tak sempat bertemu
Dua hari yang lalu mungkin terakhir kali mataku memantulkan wajahmu yang sendu
Andai aku tahu
Aku tak ingin berkedip sedetik pun
Aku tak ingin patah hati meski kau tak sengaja menyakitiku



Pada dasarnya semua orang di dunia adalah orang baik. Orang-orang baik ini tinggal di lingkungan yang berbeda yang membentuk karakternya masing-masing. Hitam atau putih. Kedua warna itu ada dalam diri kita masing-masing. Tapi kita sendirilah penentu porsi seberapa banyak kedua warna itu memperdaya kita sebagai manusia yang hidup dengan orang lain.

Beberapa orang sering kali bilang 'Just be your self'. Oke. Memang bener. Tapi sebagian orang setelah mengatakan kalimat tersebut, malah men-judge kita. Judge, bukan kritik yang membangun kita. Makanya di Korea Selatan banyak remaja yang mendambakan operasi plastik untuk hadiah ulang tahunnya yang ke 17. Karna memang nggak semua orang di dunia ini bisa terima kita apa adanya. Dari milyaran orang di dunia, hanya orang terdekat kitalah yang bener-bener terima kita apa adanya meski nggak 100 persen. Tapi tetap operasi plastik bukanlah hal yang benar, menurutku. Kecuali operasi plastik yang memang harus dilakukan karena alasan kesehatan tubuh.

'Cantik itu dilihat dari hatinya, bukan fisiknya'. Ini juga ada benarnya. Tapi tetap, untuk beberapa orang hal ini nggak berlaku. Cantik sebenarnya dari diri kita masing-masing bakalan terpancar sama orang-orang yang mengenal kita dengan baik. Tapi maksudnya di sini adalah 'knowing us right, not knowing us as a right person'. Kenyataannya ketika kumpul-kumpul sama orang-orang asing yang memaksa kita untuk dekat, siapa yang dilihat duluan? Orang cantik. Siapa yang diajak ngomong duluan? Orang cantik. Orang yang cantik secara fisik. Pada akhirnya 'Orang yang fisiknya cantik bakalan kelihatan lebih ramah', karena mereka selalu diajak bicara. Beda lagi sama orang extrovert yang nggak terlalu cantik. Makanya, hanya orang-orang yang ada di dekat kitalah yang paling tahu seberapa cantik kita.

Ngomong-ngomong soal kritik, menurutku nggak etis ketika seseorang mengkritik fisik orang lain. Bagiku, kritik yang benar adalah kritik yang ditujukan pada sifat seseorang yang bisa diubah. Toh untuk fisik, kita nggak bisa minta kita dilahirkan seperti apa. Kita nggak minta sama Allah untuk dilahirkan punya hidung pesek, kulit hitam, jidat jenong atau hal-hal yang sebenarnya terkadang nggak bikin pede. Kita nggak pernah minta semua itu. Pada akhirnya Allah ngasih sesuatu yang pas sama kita. Porsi cantik yang pas sama masing-masing kita yang dilahirkan dengan tujuan masing-masing.

Dan untuk masalah kebaikan hati, cantik yang dari hati, kita semua belajar untuk itu. Semua kebaikan yang dilakukan semata-mata karna kita belajar. Belajar melakukan hal yang membuat dunia lebih baik, dan melakukan hal yang pantas diberikan kepada orang lain sebagaimana orang lain akan melakukan hal tersebut untuk diri kita sendiri.

Jadi semua orang punya batasnya sendiri-sendiri. Nggak semua hal yang kita lakukan bisa juga dilakukan oleh orang lain. Orang lain mungkin nggak bisa secantik kita, dan begitu pula sebaliknya. Jadi menuntut seseorang untuk melakukan hal yang sama dengan kita, sama halnya dengan menyombongkan diri sendiri.

Cobalah untuk mengkritik, bukan men-judge orang lain.




Barang kali bintang ini kau yang taburkan
Kedinginan ini pertanda rasa rindu yang tak tertahankan
Bisakah kau gantikan kapas ini
Yang mengepul dan menopang kepalaku meski hanya kau yang kubutuhkan
Sekarang ini aku lebih ingin mendengar suaramu dibandingkan detik jam dinding yang kapan saja membangunkanku
Sepi. Namun aku ingin sendiri saja.
Atau tidak, aku ingin denganmu.
Aku ingin sendiri dan meramal esok yang kuharapkan ada engkau di sana.
Kesesalan menghampiri kepalaku
Menusuknya seperti panah
Andai saja kemarin ada sela waktu yang bisa disisipi hari esok
Ingin kulakukan apapun untuk mengubah waktu.
Untuk mengubah cerita
Agar esok banyak tawa denganmu
Agar esok bisa memelukmu tanpa bermimpi
Agar esok, dimana pun aku, kau selalu ada..


Diberdayakan oleh Blogger.

INSECURITIES

"Dear insecurity.. When you gonna take your hands off me? When you ever gonna let me be just the way I am? Dear insecury.. I h...