"Dear insecurity..
When you gonna take your hands off me?
When you ever gonna let me be just the way I am?
Dear insecury..
I hate the way you make me feel.
I hate the things you make me think.
You make me sick to my stomach.
I wish that I wasn't me."

Dear Insecurity - Gnash ft. Ben Abraham

Aku bukan seorang pembicara. Aku pun benci terlalu diperhatikan. Beberapa pasang mata yang hanya terfokus kepadaku begitu mengerikan. Namun aku suka keramaian. Hanya saja sesekali aku ingin tembus pandang. Memandang orang-orang. Menebak apa yang mereka pikirkan, apa yang merasa rasakan. Menebak mereka dari tawa, wajah datar, dan tangis mereka. Cukup egois karna aku hanya ingin melihat mereka, tapi tak mau mereka melihatku. Pandangan mereka yang tak kutahu dan tak bisa kutebak pikirannya seperti racun. Yang semakin banyak, terasa layak melumpuhkanku. 

Aku terbiasa berada di belakang. Tapi aku juga benci diabaikan. Aku terlalu curiga pada diriku sendiri akan melakukan hal yang salah. Padahal aku sendiri, ketika melihat kesalahan yang berada di depanku, aku dengan cepat melupakannya. Terkadang pula merasa buruk jika seseorang melakukan sesuatu yang memalukan. Dan lagi-lagi, aku ini curiga. Namun kali ini pada orang lain. Aku terlalu sombong. Aku merasa diri paling baik. Aku curiga pada orang-orang yang akan mengolok-olokku jika aku melakukan hal yang memalukan. Aku sombong karna merasa hanya aku saja yang akhirnya mengabaikan. Aku merasa semua orang jahat. Pada akhirnya, orang yang merasa semua orang jahatlah yang sebenarnya menjadi orang jahat itu.

Dan yang pada akhirnya lagi, banyak hal yang aku sesali di dunia ini. Rasa malu, kebodohan, dan keanehan yang aku lakukan di masa lalu jadi tampak lucu. Hingga terkadang aku tertawa dan tersenyum. Kejadian-kejadian itu akhirnya menghiburku di masa yang akan datang. Dan satu kejadian, mampu memberikan dua sunggingan. Lalu aku bisa menganggapnya sebagai investasi. Yang aku tahu, investasi itu akan berlaku satu kali. Karna walaupun menyenangkan pada akhirnya, hal itu tak akan aku lakukan.

Contohnya saat itu aku tersandung saat hendak membuang isi tempat sampah. Di hadapan banyak orang, di hadapan banyak laki-laki seusiaku, aku tersungkur sehingga sampah-sampah berserakan disebelahku yang sedang berada di posisi telungkup. Semua orang menatapku, menertawaiku. Akhir-akhir ini aku baru menyesalkannya. Andai saja aku lebih mengekspresikan diri dan dilihat oleh banyak orang karna aku dipanggil ke depan panggung saat upacara bendera sebagai murid berprestasi. Bukan karna terjatuh sambil membawa tong sampah. Mengingat-ingat kekonyolan itu kini aku mengerti. Keraguan yang menciptakan penyesalan akan lebih menyakitkanku di masa depan daripada hal-hal konyol yang pernah aku lakukan.

Aku percaya, jika aku lebih berani daripada diriku yang sekarang, mungkin aku akan lebih bahagia. Aku hanya percaya, tapi bodohnya aku tetap berada di posisi ini. Takut, ragu, dan juga malu..


I just found these words from "somewhere"


"Aku menemukannya.." kalimat ini selalu saja bergantung di kepalaku setiap bertemu denganmu.
Suatu keajaiban, aku hanya memilih satu di antara milyaran manusia, lalu aku ingin bersamanya selamanya.
Aku tahu Tuhan tidak membuatmu lahir dari rahim ibumu dan membuatmu bertemu denganku 18 tahun kemudian secara acak.
Entah di suatu waktu sebelumnya kita pernah bertemu, tapi kita tak menyadarinya.
Aku yakin sekali semua cerita ini tidak ada kata 'kebetulan'.
Mungkin saja setiap keputusan yang aku buat selama hidupku ini ternyata membawaku kepadamu.
Kalau saja hari itu aku tidak bangun lebih pagi, mungkin kita tidak akan bertemu.
Kalau saja hari itu aku tak memilih jalan belok ke kiri, mungkin kita tidak akan bertemu.
Kalau saja aku jalan lebih lambat waktu itu, mungkin kita tidak akan bertemu.
Kalau saja perkataanku saat itu berbeda dari yang telah aku katakan, mungkin kita tidak akan bertemu.
Kalau saja mimpiku berubah akan masa depan, mungkin kita tidak akan bertemu.
Aku penasaran, kejadian apa yang selanjutnya Tuhan catatkan untukku.
Aku ingin namamu selalu ada di sana, sampai kapan pun..


Aku pernah mendengar, sebanyak apa pun masalah kita di dunia ini, jika ada orang yang selalu berada di sampingmu, ada teman-temanmu, masalah apa pun bisa kau jalani. Tapi bagaimana justru jika teman itu sendiri yang menjadi bagian dari masalahmu? Siapa yang akan berada di sampingmu? Pada akhirnya kita hanya bisa memendam. Hanya bisa mengubur dalam-dalam masalah yang kita hadapi. Pada akhirnya, hanya diri kita sendiri yang mengerti. Kadang kita hanya butuh seseorang itu menyetujui dan mendukung keputusan kita. Berada di pihak kita. Kita tidak butuh kata-kata yang sebenarnya sudah kita ketahui. Kita hanya butuh orang itu ada di sisi kita, mengatakan apa yang sebenarnya apa dalam hati kita. Bukan masukan atau saran. Tapi kita ingin memastikan orang itu ada di pihak kita. Kita tidak bisa memaksa seseorang bisa paham dengan kondisi kita. Terkadang juga hanya ingin menangis dan melupakan. Karna dengan melupakan segalanya kembali utuh.

Bahkan dengan satu pelukan, banyak hal yang tersampaikan.

Aku masih merasa misterius bagaimana Tuhan menciptakan perasaan yang sangat amat harus dijaga ini. Hal sepele mengenai perasaan ini harus kita bawa ke dunia mana pun kita dilempar. Di dunia asing itu, perasaan ini semakin rentan terluka. Akan banyak badai di luar sana. Akan ada banyak retakan nantinya.

Terkadang aku sendiri merasa iba pada hati, aku tak bisa menjaganya untuk terus utuh.

Namun, entah kenapa waktu terus membolak-balikkan perasaan dan ingatan. Kenapa aku melakukannya? Kenapa aku harus terluka waktu itu? Pada akhirnya, perasaan akan pergi terbang secepat angin. Kita lupa bagaimana perasaan kita pada masa lampau meski saat itu kita merasa benar-benar hancur, dan tak ada luka lagi yang mampu menambah rasa sakit itu. Namun waktu mulai mengobati. Yang aku kira dulu adalah masalah, ternyata bukan masalah. 

Pada akhirnya aku sadar, akulah masalah itu sendiri.

Aku tak bisa mengatasi masalah dengan diriku sendiri. Akulah bagian terbesar dari masalah itu sendiri. Aku tak bisa mengendalikan diri. Benar kata orang-orang, musuh terbesar adalah diri kita sendiri. Ketika aku menyesal, aku merasa bahwa diriku yang dulu adalah musuh diriku yang sekarang. Aku ingin membunuh egonya kala itu. Hati dan otakku yang masih sama ini bekerja dengan cara yang berbeda dengan waktu yang berbeda. 

Perbedaan ada karna waktu dan ruang yang berbeda. Seiring berjalannya dimensi itu, perbedaan muncul. Terpengaruhi situasi di ruang dan waktu itu. Bahkan masih dalam tubuh yang sama, aku terkadang bergejolak dengan sendirinya. Ada dua sisi yang mengubahku seiring waktu.

Aku berbeda bahkan dalam tubuh yang sama. Bagaimana dengan orang lain? 


Barangkali kabarmu tersapu angin sore
Kala itu aku sedang tak berada di beranda rumah
Aku sibuk merapikan sisa-sisa bajumu yang kau tinggalkan
Juga sibuk meyakinkan diri bahwa aku sedang tidak sendiri
Ada engkau yang selalu kucari-cari
Mungkin engkau ada di belahan bumi lain
Aku yakin
Engkau akan segera sampai
Sambil membawa kembali rindu yang selalu ku kirimkan
Jika kau tak kembali
Pastikan padaku
Engkau ada namun tak sempat bertemu
Dua hari yang lalu mungkin terakhir kali mataku memantulkan wajahmu yang sendu
Andai aku tahu
Aku tak ingin berkedip sedetik pun
Aku tak ingin patah hati meski kau tak sengaja menyakitiku



Pada dasarnya semua orang di dunia adalah orang baik. Orang-orang baik ini tinggal di lingkungan yang berbeda yang membentuk karakternya masing-masing. Hitam atau putih. Kedua warna itu ada dalam diri kita masing-masing. Tapi kita sendirilah penentu porsi seberapa banyak kedua warna itu memperdaya kita sebagai manusia yang hidup dengan orang lain.

Beberapa orang sering kali bilang 'Just be your self'. Oke. Memang bener. Tapi sebagian orang setelah mengatakan kalimat tersebut, malah men-judge kita. Judge, bukan kritik yang membangun kita. Makanya di Korea Selatan banyak remaja yang mendambakan operasi plastik untuk hadiah ulang tahunnya yang ke 17. Karna memang nggak semua orang di dunia ini bisa terima kita apa adanya. Dari milyaran orang di dunia, hanya orang terdekat kitalah yang bener-bener terima kita apa adanya meski nggak 100 persen. Tapi tetap operasi plastik bukanlah hal yang benar, menurutku. Kecuali operasi plastik yang memang harus dilakukan karena alasan kesehatan tubuh.

'Cantik itu dilihat dari hatinya, bukan fisiknya'. Ini juga ada benarnya. Tapi tetap, untuk beberapa orang hal ini nggak berlaku. Cantik sebenarnya dari diri kita masing-masing bakalan terpancar sama orang-orang yang mengenal kita dengan baik. Tapi maksudnya di sini adalah 'knowing us right, not knowing us as a right person'. Kenyataannya ketika kumpul-kumpul sama orang-orang asing yang memaksa kita untuk dekat, siapa yang dilihat duluan? Orang cantik. Siapa yang diajak ngomong duluan? Orang cantik. Orang yang cantik secara fisik. Pada akhirnya 'Orang yang fisiknya cantik bakalan kelihatan lebih ramah', karena mereka selalu diajak bicara. Beda lagi sama orang extrovert yang nggak terlalu cantik. Makanya, hanya orang-orang yang ada di dekat kitalah yang paling tahu seberapa cantik kita.

Ngomong-ngomong soal kritik, menurutku nggak etis ketika seseorang mengkritik fisik orang lain. Bagiku, kritik yang benar adalah kritik yang ditujukan pada sifat seseorang yang bisa diubah. Toh untuk fisik, kita nggak bisa minta kita dilahirkan seperti apa. Kita nggak minta sama Allah untuk dilahirkan punya hidung pesek, kulit hitam, jidat jenong atau hal-hal yang sebenarnya terkadang nggak bikin pede. Kita nggak pernah minta semua itu. Pada akhirnya Allah ngasih sesuatu yang pas sama kita. Porsi cantik yang pas sama masing-masing kita yang dilahirkan dengan tujuan masing-masing.

Dan untuk masalah kebaikan hati, cantik yang dari hati, kita semua belajar untuk itu. Semua kebaikan yang dilakukan semata-mata karna kita belajar. Belajar melakukan hal yang membuat dunia lebih baik, dan melakukan hal yang pantas diberikan kepada orang lain sebagaimana orang lain akan melakukan hal tersebut untuk diri kita sendiri.

Jadi semua orang punya batasnya sendiri-sendiri. Nggak semua hal yang kita lakukan bisa juga dilakukan oleh orang lain. Orang lain mungkin nggak bisa secantik kita, dan begitu pula sebaliknya. Jadi menuntut seseorang untuk melakukan hal yang sama dengan kita, sama halnya dengan menyombongkan diri sendiri.

Cobalah untuk mengkritik, bukan men-judge orang lain.




Barang kali bintang ini kau yang taburkan
Kedinginan ini pertanda rasa rindu yang tak tertahankan
Bisakah kau gantikan kapas ini
Yang mengepul dan menopang kepalaku meski hanya kau yang kubutuhkan
Sekarang ini aku lebih ingin mendengar suaramu dibandingkan detik jam dinding yang kapan saja membangunkanku
Sepi. Namun aku ingin sendiri saja.
Atau tidak, aku ingin denganmu.
Aku ingin sendiri dan meramal esok yang kuharapkan ada engkau di sana.
Kesesalan menghampiri kepalaku
Menusuknya seperti panah
Andai saja kemarin ada sela waktu yang bisa disisipi hari esok
Ingin kulakukan apapun untuk mengubah waktu.
Untuk mengubah cerita
Agar esok banyak tawa denganmu
Agar esok bisa memelukmu tanpa bermimpi
Agar esok, dimana pun aku, kau selalu ada..



Aku kira aku adalah poros dunia.
Aku kira orang-orang tercipta hanya untukku,
memberikan yang terbaik untukku.
Itu dulu, ketika aku masihlah bocah ingusan yang tak mengerti apa-apa.
Tak mengerti apa artinya kesepian.
Sekarang, hal-hal yang kubutuhkan sudah jelas.
 Aku hanya tak ingin sendiri.
Rasanya aku ingin bertemu diriku yang dulu ketika masih anak-anak.
Aku ingin katakan padanya bahwa dirinya sangat beruntung.
Aku ingin kembali menjadi sepertinya.
Aku tak pernah sendiri.
Orang-orang selalu ada jika aku memanggil mereka.
Orang-orang akan mengusap air mataku ketika aku kesakitan.
Orang-orang akan bergantian menemaniku agar aku tak sedih sendirian.
Tapi kini aku tak bisa kembali.
Ketika kulihat orang-orang disekitarku, mereka baik-baik saja tanpaku.
Dunia tetaplah sama tanpa diriku.
Mereka selalu berpikir bahwa aku baik-baik saja karna aku dewasa.
Tapi ingin kukatakan pada diriku yang dulu, menjadi dewasa bukan berarti tak akan menangis lagi.
Justru ketika ia menangis, rasa sakit itu benar-benar sakit.
Karna rasa sakit yang ia keluarkan saat menangis adalah rasa sakit yang telah tertahan beberapa waktu setelah memikirkan banyak hal.
Akhir-akhir ini aku menangis karna kesepian itu.
Rasa sakit yang benar-benar sakit adalah ketika kau menghadapinya dengan sendiri.
Karna itu, aku menangis karna aku merasa sepi.
Rasa sepi yang hanya kau saja rasakan dan tak bisa kau ungkapkan dengan orang lain.



Ku sesap kopi sambil berdoa
Semoga jantungku tahan dengan cinta
Tak hanya aku yang sendiri
Buku harian coklat ini juga menunggu dibuka
Siap menyambut cerita yang akan dibacakan
Andai sepi secepat kopi yang semakin dingin
Andai sepi berhenti begitu kutengguk isi gelas ini
Cerita secangkir kopi lebih berarti
Adakah rindu yang merambat di sisi cerita ini?
Ku tunggu kau hampir 2 jam dikalikan 4.380 jam
Kakek tua yang biasa menyapa di pinggir jalan sana saja sudah melupakanmu
Untung saja ada foto dalam buku harian ini
Yang terus mengingat wajahmu dan merambatnya ke sel otakku
Atau tidak mungkin aku akan lupa
Mungkin aku akan segera hilang ingatan
Yang ku ingat hanya sesosok manusia yang dulu pernah bahagia
Yang tersenyum lalu meneduhkanku
Ku ingat hari itu kita sama-sama menunggu hujan
Di depan kedai kopi ini
Kala itu aku berdoa agar hujan tak segera berhenti
Rasanya saat itu aku langsung jatuh cinta dengan hujan
Begitupun dengan sosok di sampingku kala itu
Aku ingin rasanya 1 menit bukan 60 detik
Aku ingin perhitungan itu salah
Tapi kala itu ku temukan rumus yang membuat waktu bisa berhenti
Meski sejenak rasanya aku jadi penemu
Tapi hanya aku saja yang dapat berdimensi dengan rumus itu
Begitu banyak hal yang mengingatkanku tentangmu
Seperti aroma kopi ini
Yang ku harap aroma ini ada di halaman belakang rumah
Saat itu aku ada bersamamu menyeruput kopi dengan roti tawar
Belum sejauh itu
Masih banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu
Bukan pembicaraan yang serius
Cukup kalimat sederhana seperti bagaimana kabarmu
Ingin kutanya, esok jika kita bertemu
Ku ingin lihat adakah rindu dari bola matamu.



Seorang teman menuliskan ini dengan isi hatinya. Dengan gundahnya, dan pandangannya. Ia kecewa bahwa tulisannya tak bisa ia muat. Tak bisa membuatnya berkembang. Ini dia salah satu tulisannya :
                Antara berdiri di neraka dan mencoba berlari menemukan surga. Tiada yang bisa ku hindari. Ketika aku memilih di sini, yang penuh kekerasan, keegoisan kemelaratan dan keanehan. Sesuatu yang salah bisa menjadi indikator penentu. Hanya sandiwara yang berhak menang. Mestinya peran harus dimainkan diuar kewarasan. Sungguh menakjubkan namun menyakitkan. Seakan tak ingin melangkah,tapi waktu memutar masa yang ada.menuntun kea rah yang lebih aneh lagi. Tak habis pikir,masikah akan terus seperti ini?
                Tak seorangpun ku biarkan mengenali aku. Karena aku datang bukan untuk menetap. Walau akhirnya aku meninggal disini. Tapi, aku takkan pernah mengakui itu. Ini adalah hari ke-5760 aku di dunia. Sedikitpun belum ku temukan sepercik air jernih untuk menjadi cermin hidupku. Yang ada hanya ketidakpahamanku berkoak-koak membangunkan seluruh makhluk bernyawa. Sialnya, tak dihiraukan.
                Setiap harinya aku selalu menghitung kapan sampainya aku di hari ke-9999 di dunia. Aku berteriak memecahkan riak gelombang di samudra antartika, berharap bisa kembali ke duniaku semula. Malangnya, aku tak dihiraukan lagi. Terlantar disini membuat aku harus menghabiskan realita di atas keasingan yang parah bertalian ini.
                Melihat orang-orang yang tak ku kenali disana dan disini. Dimana, mereka semua memakai topeng yang sangat menakutkan. Ada yang lain memang tentang diriku, tapi dunia ini lebih lain lagi. Aku menemukan yang namanya pendidikan, moral, politik, ekonomi, agama, budaya dll yang dulunya juga sudah aku temukan. Sebenarnya bukan hal baru, hanya saja sangat berbeda. Bahkan aku sampai nangis darah memahami perbedaan ini,sulit dijelaskan tapi ini nyata. Ketika sebagian dari  makhluk hidup sulit bernapas. Padahal mereka kaya akan udara. Tapi,bagaimana aku bisa membantu? Sedang napasku juga sesak. Atau tentang teman-temanku yang bangga mengenakan seragam sekolah. Tertawa menelusuri hari tanpa tujuan yang pasti. Tentang rumahku yang tak pernah menyentuh kedamaian. Tentang para pemimpinku yang tak pernah puas. Tentang mereka yang selalu merasa lapar.Tentang saudara-saudariku yang acuh kepada Tuhan. Aku heran berdiri sendiri di ujung aspal yang jarang dilewati ini.
                Terkadang aku muak berhadapan dengan manusia ular,manusia drakula. Yang tak jarang kutemukan di sekolah,dilingkunganku dan dimanapun aku menginjakkan kakiku. Katanya saudaraku sendiripun tega menghisap apa yang selama ini menjadi pertahananku untuk bernapas. Tiada yang bisa di percaya aku lebih memilih hidup sendiri. Tapi, akankah bisa?
Pernah sekali aku mendarat di daerah yang katanya beragama kental. Aku memang tak sesempurna mereka. Ibadahnya yang lengakap disertai sunnah-sunnahNya. Tapi moralku jauh lebih baik. Aku yakin itu. Ketika kudapati seseorang lelaki paruh baya membentang dan mendorong seorang nenek yang tengah berhadapan dengannya. Mungkinkah itu ibunya? Hanya karena si nenek lupa melepas sendalnya hendak masuk rumah,beginilah akhirnya. Pantaskah seorang beragama memiliki hati sekeras ini.
                Seketika juga aku terenyuh mendengar keluhan para tetangga-tetangga ku yang harus menyisakan sepiring nasi untuk makan siang. Tak seorangpun yang peduli. Hanya aku dengan segala usaha yang mungkin tak menyelesaikan perkara ini. Ntah harus bagaimana lagi memperdayakan aku yang begitu lemah ini. Tiada respon dengan semua kenyataan yang terjadi. Mungkinkah nanti ada sedikit perubahan setelah ini?
                Tak habis fikir ternyata kehidupan separah ini. Bukankah Tuhan telah memberi nikmat yang cukup? Seandainya saja dulu aku tidak melawan dengan semua yang ada, aku tak kan sampai ke kehidupan seperti ini. Ingin rasanya aku mengubahnya. Namun, aku akui itu tak semudah membalik telapak tangan. Sedang aku hanya seorang musafir disini. Atau akulah sang hero yang akan mengubah ini? Ntah lah. Yang aku inginkan hanya kembali ke tempat dimana aku melihat keluargaku yang sebenarnya. Bukan ditempat yang penuh sandiwara seperti ini. Sungguh, tidak memberi hidup.
                Pagi-pagi sekali aku sengaja berangkat sekolah sendiri. Ibuku sedari tadi memaksa aku membawa bekal makan siang tak sampai hati melihat kepergianku tanpa uang saku. Perempuan yang ku panggil mama ini menyelipkan uang kertas dua ribu rupiah dikantong tasku yang sudah tua dan rapuh ini. Aku yang sekarang duduk di bangku SMA, apakah masih pantas memegang duit sebesar itu di tahun seperti ini? Kau mungkin bisa menjawabnya. Untungnya, sekolahku tak jauh dari rumah. Hanya sekitar 2 km dan aku menempuhnya dengan berjalan kaki.
                Sampai akhirnya aku menyelesaikan sekolahku di tingkat SMA. Aku dan keluargaku masih sama seperti dulu. Melarat, kelaparan dan penuh pertengkaran. Begitu juga dengan aparat penegak hukum yang berkeliaran dengan seribu macam jurus terjitu untuk menjebak kaum tak berduit yang benar dari tuduhan. Yang berpura-pura melindungi nyawa lemah tapi nyatanya menikam dan memenangkan tawa kepuasan atas kelakuan bejat mereka. Peraturan-peraturan juga masih sama seperti dulu. Dibuat hanya sebagai simbol bahwa negara ini berdaulat, makmur, demokrasi atau apalah itu yang sangat memuakkan.
                Aku sendiri jijik melihat mereka berpose dengan style masing-masing. Mencengkrama sebagai makhluk sosial yang penuh perhatian dan sangat berwibawa. Bangga terhadap jabatan-jabatan haram yang indahnya hanya sekejap itu. Aku dan saudara-saudariku memang tak melihat transparan hitam-putihnya layar ini. Tapi Tuhan? Siapa yang bisa berpaling dari kehendak Tuhan?
                Saat aku pertama kali ikut memilih wakil-wakil rakyat dimana-mana selalu ada suara sumbang yang tak kuketahui kemana larinya. Ketika kutanyai kenapa? Semua hanya membisu dan sibuk dengan urusan masing-masing. Mungkinkah ini salah satu karena kemelaratan yang merajalela? 



Mungkin cintaku belum sempurna
Atau paras dan nadaku yang tersumbat oleh jaring kehidupan
Mungkin juga caraku yang lama dan rahasia
Aku hanya ingin menanti
Di dinginnya halte keraguan yang seakan jadi gerbang
Dan melihat cinta yang dapat merelakan apa saja
Bencinya diriku seakan terdera dengan cinta yang masih sebuah tunas!
Aku tak perduli ia tumbuh apa tidak
Tak peduli mengakar sedalam apa.
Puing-puing masa lalu itu masih tertanam
Meski hanya sebatas bayangan.




Bersamamu, di langit yang sama. Hanya ini yang tak berubah, meski waktu berlanjut-lanjut lamanya. Bersama kamu, aku bahagia. Meski sesekali tak kutemui dirimu yang kumau. Setidaknya kita masih bersama di langit yang sama, di atap yang sama, di kubah yang sama. Aku tak tahu apa yang harus aku perbuat. Karna dengan kamu selalu di sini, aku tak khawatir lagi. Aku bahagia kamu terlahir di masa yang sama denganku. Terlahir dan hidup juga di duniaku. Langit ini selalu bersama kita. Karna hanya langit yang selalu sama. Kanvas luas yang selalu Tuhan Pelukis Langit gambarkan untukku, untukmu, dan kita. Tapi aku tak tahu misteri apa yang terkisah di bola matamu. Tak dapat tersurat dan tersirat. Tak dapat ku baca seperti langit yang selalu bermaknakan hidupku yang luas. Kamu bisa miliki duniamu sendiri. Langitmu sendiri. Meski kau lupa bahwa ini langit kita bersama, dari Tuhan Pelukis Langit kita. Engkau tak tahu arti hadirku. Hanya langit, yang kita tatap bersama.


Diberdayakan oleh Blogger.

INSECURITIES

"Dear insecurity.. When you gonna take your hands off me? When you ever gonna let me be just the way I am? Dear insecury.. I h...