Aku kira aku adalah poros dunia.
Aku kira orang-orang tercipta hanya untukku,
memberikan yang terbaik untukku.
Itu dulu, ketika aku masihlah bocah ingusan yang tak mengerti apa-apa.
Tak mengerti apa artinya kesepian.
Sekarang, hal-hal yang kubutuhkan sudah jelas.
 Aku hanya tak ingin sendiri.
Rasanya aku ingin bertemu diriku yang dulu ketika masih anak-anak.
Aku ingin katakan padanya bahwa dirinya sangat beruntung.
Aku ingin kembali menjadi sepertinya.
Aku tak pernah sendiri.
Orang-orang selalu ada jika aku memanggil mereka.
Orang-orang akan mengusap air mataku ketika aku kesakitan.
Orang-orang akan bergantian menemaniku agar aku tak sedih sendirian.
Tapi kini aku tak bisa kembali.
Ketika kulihat orang-orang disekitarku, mereka baik-baik saja tanpaku.
Dunia tetaplah sama tanpa diriku.
Mereka selalu berpikir bahwa aku baik-baik saja karna aku dewasa.
Tapi ingin kukatakan pada diriku yang dulu, menjadi dewasa bukan berarti tak akan menangis lagi.
Justru ketika ia menangis, rasa sakit itu benar-benar sakit.
Karna rasa sakit yang ia keluarkan saat menangis adalah rasa sakit yang telah tertahan beberapa waktu setelah memikirkan banyak hal.
Akhir-akhir ini aku menangis karna kesepian itu.
Rasa sakit yang benar-benar sakit adalah ketika kau menghadapinya dengan sendiri.
Karna itu, aku menangis karna aku merasa sepi.
Rasa sepi yang hanya kau saja rasakan dan tak bisa kau ungkapkan dengan orang lain.



Ku sesap kopi sambil berdoa
Semoga jantungku tahan dengan cinta
Tak hanya aku yang sendiri
Buku harian coklat ini juga menunggu dibuka
Siap menyambut cerita yang akan dibacakan
Andai sepi secepat kopi yang semakin dingin
Andai sepi berhenti begitu kutengguk isi gelas ini
Cerita secangkir kopi lebih berarti
Adakah rindu yang merambat di sisi cerita ini?
Ku tunggu kau hampir 2 jam dikalikan 4.380 jam
Kakek tua yang biasa menyapa di pinggir jalan sana saja sudah melupakanmu
Untung saja ada foto dalam buku harian ini
Yang terus mengingat wajahmu dan merambatnya ke sel otakku
Atau tidak mungkin aku akan lupa
Mungkin aku akan segera hilang ingatan
Yang ku ingat hanya sesosok manusia yang dulu pernah bahagia
Yang tersenyum lalu meneduhkanku
Ku ingat hari itu kita sama-sama menunggu hujan
Di depan kedai kopi ini
Kala itu aku berdoa agar hujan tak segera berhenti
Rasanya saat itu aku langsung jatuh cinta dengan hujan
Begitupun dengan sosok di sampingku kala itu
Aku ingin rasanya 1 menit bukan 60 detik
Aku ingin perhitungan itu salah
Tapi kala itu ku temukan rumus yang membuat waktu bisa berhenti
Meski sejenak rasanya aku jadi penemu
Tapi hanya aku saja yang dapat berdimensi dengan rumus itu
Begitu banyak hal yang mengingatkanku tentangmu
Seperti aroma kopi ini
Yang ku harap aroma ini ada di halaman belakang rumah
Saat itu aku ada bersamamu menyeruput kopi dengan roti tawar
Belum sejauh itu
Masih banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu
Bukan pembicaraan yang serius
Cukup kalimat sederhana seperti bagaimana kabarmu
Ingin kutanya, esok jika kita bertemu
Ku ingin lihat adakah rindu dari bola matamu.


Diberdayakan oleh Blogger.

INSECURITIES

"Dear insecurity.. When you gonna take your hands off me? When you ever gonna let me be just the way I am? Dear insecury.. I h...