Ku sesap kopi sambil berdoa
Semoga jantungku tahan dengan cinta
Tak hanya aku yang sendiri
Buku harian coklat ini juga menunggu dibuka
Siap menyambut cerita yang akan dibacakan
Andai sepi secepat kopi yang semakin dingin
Andai sepi berhenti begitu kutengguk isi gelas ini
Cerita secangkir kopi lebih berarti
Adakah rindu yang merambat di sisi cerita ini?
Ku tunggu kau hampir 2 jam dikalikan 4.380 jam
Kakek tua yang biasa menyapa di pinggir jalan sana saja sudah melupakanmu
Untung saja ada foto dalam buku harian ini
Yang terus mengingat wajahmu dan merambatnya ke sel otakku
Atau tidak mungkin aku akan lupa
Mungkin aku akan segera hilang ingatan
Yang ku ingat hanya sesosok manusia yang dulu pernah bahagia
Yang tersenyum lalu meneduhkanku
Ku ingat hari itu kita sama-sama menunggu hujan
Di depan kedai kopi ini
Kala itu aku berdoa agar hujan tak segera berhenti
Rasanya saat itu aku langsung jatuh cinta dengan hujan
Begitupun dengan sosok di sampingku kala itu
Aku ingin rasanya 1 menit bukan 60 detik
Aku ingin perhitungan itu salah
Tapi kala itu ku temukan rumus yang membuat waktu bisa berhenti
Meski sejenak rasanya aku jadi penemu
Tapi hanya aku saja yang dapat berdimensi dengan rumus itu
Begitu banyak hal yang mengingatkanku tentangmu
Seperti aroma kopi ini
Yang ku harap aroma ini ada di halaman belakang rumah
Saat itu aku ada bersamamu menyeruput kopi dengan roti tawar
Belum sejauh itu
Masih banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu
Bukan pembicaraan yang serius
Cukup kalimat sederhana seperti bagaimana kabarmu
Ingin kutanya, esok jika kita bertemu
Ku ingin lihat adakah rindu dari bola matamu.


Diberdayakan oleh Blogger.

INSECURITIES

"Dear insecurity.. When you gonna take your hands off me? When you ever gonna let me be just the way I am? Dear insecury.. I h...