"Dear insecurity..
When you gonna take your hands off me?
When you ever gonna let me be just the way I am?
Dear insecury..
I hate the way you make me feel.
I hate the things you make me think.
You make me sick to my stomach.
I wish that I wasn't me."
Dear Insecurity - Gnash ft. Ben Abraham
Aku bukan seorang pembicara. Aku pun benci terlalu diperhatikan. Beberapa pasang mata yang hanya terfokus kepadaku begitu mengerikan. Namun aku suka keramaian. Hanya saja sesekali aku ingin tembus pandang. Memandang orang-orang. Menebak apa yang mereka pikirkan, apa yang merasa rasakan. Menebak mereka dari tawa, wajah datar, dan tangis mereka. Cukup egois karna aku hanya ingin melihat mereka, tapi tak mau mereka melihatku. Pandangan mereka yang tak kutahu dan tak bisa kutebak pikirannya seperti racun. Yang semakin banyak, terasa layak melumpuhkanku.
Aku terbiasa berada di belakang. Tapi aku juga benci diabaikan. Aku terlalu curiga pada diriku sendiri akan melakukan hal yang salah. Padahal aku sendiri, ketika melihat kesalahan yang berada di depanku, aku dengan cepat melupakannya. Terkadang pula merasa buruk jika seseorang melakukan sesuatu yang memalukan. Dan lagi-lagi, aku ini curiga. Namun kali ini pada orang lain. Aku terlalu sombong. Aku merasa diri paling baik. Aku curiga pada orang-orang yang akan mengolok-olokku jika aku melakukan hal yang memalukan. Aku sombong karna merasa hanya aku saja yang akhirnya mengabaikan. Aku merasa semua orang jahat. Pada akhirnya, orang yang merasa semua orang jahatlah yang sebenarnya menjadi orang jahat itu.
Dan yang pada akhirnya lagi, banyak hal yang aku sesali di dunia ini. Rasa malu, kebodohan, dan keanehan yang aku lakukan di masa lalu jadi tampak lucu. Hingga terkadang aku tertawa dan tersenyum. Kejadian-kejadian itu akhirnya menghiburku di masa yang akan datang. Dan satu kejadian, mampu memberikan dua sunggingan. Lalu aku bisa menganggapnya sebagai investasi. Yang aku tahu, investasi itu akan berlaku satu kali. Karna walaupun menyenangkan pada akhirnya, hal itu tak akan aku lakukan.
Contohnya saat itu aku tersandung saat hendak membuang isi tempat sampah. Di hadapan banyak orang, di hadapan banyak laki-laki seusiaku, aku tersungkur sehingga sampah-sampah berserakan disebelahku yang sedang berada di posisi telungkup. Semua orang menatapku, menertawaiku. Akhir-akhir ini aku baru menyesalkannya. Andai saja aku lebih mengekspresikan diri dan dilihat oleh banyak orang karna aku dipanggil ke depan panggung saat upacara bendera sebagai murid berprestasi. Bukan karna terjatuh sambil membawa tong sampah. Mengingat-ingat kekonyolan itu kini aku mengerti. Keraguan yang menciptakan penyesalan akan lebih menyakitkanku di masa depan daripada hal-hal konyol yang pernah aku lakukan.
Aku percaya, jika aku lebih berani daripada diriku yang sekarang, mungkin aku akan lebih bahagia. Aku hanya percaya, tapi bodohnya aku tetap berada di posisi ini. Takut, ragu, dan juga malu..
